Selasa, 26 April 2011

Jenis Senjata Tradisional Jepang

Jenis Senjata Tradisional Jepang

Senjata tradisional jepang begitu banyak kita saksikan di televisi dan mungkin yg kita ketahui hanya samurai dan senjata rahasia mereka, tapi ternyata ada berbagai macam jenis senjata di Jepang yang hingga kini masih digunakan dan terkenal lewat film2 dan komik Jepang seperti Naruto, Satria Baja Hitam dan sebagainya.

KATANA
Katana (刀) adalah pedang panjang Jepang (daitō, 大刀), walaupun di Jepang sendiri ini merujuk pada semua jenis pedang. Katana adalah kunyomi (sebutan Jepang) dari bentuk kanji 刀; sedangkan onyomi (sebutan Hanzi) karakter kanji tersebut adalah tō. Ia merujuk kepada pedang satu mata, melengkung yang khusus yang secara tradisi digunakan oleh samurai Jepang.
Katana biasanya dipasangkan dengan wakizashi atau shōtō, bentuknya mirip tapi dibuat lebih pendek, keduanya dipakai aleh anggota kelas ksatria.

WAKIZASHI
Wakizashi (bahasa Jepang: 脇差) adalah pedang Jepang tradisional dengan panjang mata bilah antara 30 dan 60 sentimeter (antara 12 hingga 24 inci), serupa tetapi lebih pendek bila dibandingkan dengan katana yang sering dikenakan bersama-sama. Apabila dikenakan bersama, pasangan pedang ini dikenali sebagai daisho, yang apabila diterjemahkan secara harafiah sebagai "besar dan kecil"; "dai" atau besar untuk katana, dan "sho" untuk wakizashi.
Wakizashi digunakan sebagai senjata samurai apabila tidak ada Katana. Apabila memasuki bangunan suci atau bangunan istana, samurai akan meninggalkan katananya pada para pengawal pada pintu masuk. Namun, wakizashi selalu tetap dibawa pada setiap waktu, dan dengan itu, ia menjadi senjata bagi samurai, serupa seperti penggunaan pistol bagi tentara.

NAGINATA
Naginata (なぎなた, 薙刀) adalah senjata kelas tombak yang secara tradisional digunakan di Jepang oleh para anggota Samurai. Sebuah Naginata terdiri dari pegangan tongkat kayu dan golok melengkung pada ujungnya, senjata ini sama dengan yang dipegang oleh Guan Yu dalam sejarah China.
Ilmu beladiri yang menggunakan Naginata disebut Naginata-jutsu.




KAMA
Kama (鎌 or かま) adalah senjata tradisional yang berasal dari Okinawa, Kama pada awalnya digunakan untuk pertanian.

Senjata Kama biasa digunakan sepasang, senjata ini merupakan salah 1 senjata utama Ninja, tetapi pada ujungnya dipasang gada/rantai, disebut Kusari-gama.



KUSARI GAMA
Kusari-Gama adalah Kama ( lihat diatas ), tetapi memiliki rantai yang diikatkan dengan senjata tajam ( gada, pedang kecil, dll )






SAI
Sai (釵) adalah senjata tradisional yang berasal dari Okinawa, juga digunakan di India, China, Indonesia dan Malaysia. Sai adalah senjata yang berbentuk seperti Trisula.
Sai pada awalnya adalah alat pertanian.







SHURIKEN
Shuriken (手裏剣;"hand hidden blade") adalah senjata tradisional jepang yang pada umumnya digunakan untuk dilempar ke lawan, dan kadang digunakan untuk menusuk dan memotong arteri lawan. Shuriken dibuat dari jarum, pisau, dan bahan logam lain. Shuriken adalah senjata yang paling sering digunakan setelah katana dan naginata.
Ilmu beladiri yang menggunakan shuriken disebut Shuriken-jutsu, Shuriken-jutsu pada dulunya diajarkan di perguruan ninja.
Shuriken dikenal dengan sebutan "Bintang Ninja"



KUNAI
Kunai adalah senjata lempar tradisional jepang, muncul pada era kaisar Tensho. Kunai pada umumnnya dibuat dari besi, bukan baja/metal lain, dibuat dengan murah dan tidak di-polish. Kunai biasanya berukuran 20-60cm, dan rata-rata 40 cm.
Kunai pada dulunya adalah alat untuk berkebun dan alat bagi para pekerja batu.
Kunai dipercaya sebenarnya bukan senjata yang didesain untuk dilempar, tetapi dapat dilempar dan menghasilkan daya hancur yang lumayan.

Sumber :
- en.wikipedia
- id.wikipedia
- MUSUBI shop

"kujang" senjata tradisional jawa-barat

Kujang (Senjata Tradisional Orang Sunda)


Pengantar
Jawa adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan “daerah asal” orang Jawa semata karena di sana ada orang Sunda yang berdiam di bagian barat Pulau Jawa (Jawa Barat). Mereka (orang Sunda) mengenal atau memiliki senjata khas yang disebut sebagai kujang. Konon, bentuk dan nama senjata ini diambil dari rasa kagum orang Sunda terhadap binatang kud hang atau kidang atau kijang yang gesit, lincah, bertanduk panjang dan bercabang, sehingga membuat binatang lain takut.
Apabila dilihat dari bentuk dan ragamnya, kujang dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) kujang ciung (kujang yang bentuknya menyerupai burung ciung); (2) kujang jago (kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago); (3) kujang kuntul (kujang yang bentuknya menyerupai burung kuntul); (4) kujang bangkong (kujang yang bentuknya menyerupai bangkong (kodok)); (5) kujang naga (kujang yang bentuknya menyerupai ular naga); (6) kujang badak (kujang yang bentuknya menyerupai badak); dan (6) kudi (pakarang dengan bentuk yang menyerupai kujang namun agak “kurus”). Sedangkan, apabila dilihat dari fungsinya kujang dapat pula dibagi menjadi beberapa macam, yaitu: (1) kujang sebagai pusaka (lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan); (2) kujang sebagai pakarang (kujang yang berfungsi sebagai senjata untuk berperang); (3) kujang sebagai pangarak (alat upacara); dan (4) kujang pamangkas (kujang yang berfungsi sebagai alat dalam pertanian untuk memangkas, nyacar, dan menebang tanaman).
Struktur Kujang
Sebilah kujang yang tergolong lengkap umumnya terdiri dari beberapa bagian, yaitu: (1) papatuk atau congo, yaitu bagian ujung yang runcing yang digunakan untuk menoreh atau mencungkil; (2) eluk atau siih, yaitu lekukan-lekukan pada badan kujang yang gunanya untuk mencabik-cabik tubuh lawan; (3) waruga yaitu badan atau wilahan kujang; (4) mata[1], yaitu lubang-lubang kecil yang terdapat pada waruga yang jumlahnya bervariasi, antara 5 hingga 9 lubang. Sebagai catatan, ada juga kujang yang tidak mempunyai mata yang biasa disebut sebagai kujang buta; (5) tonggong, yaitu sisi tajam yang terdapat pada bagian punggung kujang; (6) tadah, yaitu lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang; (7) paksi, yaitu bagian ekor kujang yang berbentuk lancip; (8) selut, yaitu ring yang dipasang pada ujung gagang kujang; (9) combong, yaitu lubang yang terdapat pada gagang kujang; (10) ganja atau landaian yaitu sudut runcing yang mengarah ke arah ujung kujang; (11) kowak atau sarung kujang yang terbuat dari kayu samida yang memiliki aroma khas dan dapat menambah daya magis sebuah kujang; dan (12) pamor berbentuk garis-garis (sulangkar) atau bintik-bintik (tutul) yang tergambar di atas waruga kujang. Sulangkar atau tutul pada waruga kunjang, disamping sebagai penambah nilai artistik juga berfungsi untuk menyimpan racun[2].
Sebagai catatan, terdapat beberapa pengertian mengenai kata pamor. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), pamor adalah: baja putih yang ditempatkan pada bilah keris dan sebagainya; lukisan pada bilah keris dan sebagainya dibuat dari baja putih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:720) disebutkan bahwa pamor adalah baja putih yang ditempakan pada bilah keris dan sebagainya atau lukisan pada bilah keris dan sebagainya dibuat dari baja putih. Dalam Kamus Basa Sunda karangan Satjadibrata (1954:278) disebutkan bahwa pamor adalah “ngaran-ngaran gurat-gurat nu jiga gambar (dina keris atawa tumbak) jeung dihartikeun oge cahaya” yang artinya “pamor adalah nama garis yang menyerupai gambar (baik yang terdapat dalam keris ataupun mata tumbak) juga pamor dapat diartikan cahaya). Dalam bahasa Kawi, berarti campuran atau percampuran. Dan, dalam Enskilopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400) disebutkan bahwa pamor adalah permukaan bilah keris yang dipercaya mengandung khasiat baik atau khasiat buruk. Pamor yang berkhasiat baik adalah pamor yang dapat memberi keselamatan kepada pemilik atau pemakainya. Sedangkan pamor yang berhasiat buruk adalah pamor yang membawa sial atau ingin membunuh musuh atau bahkan pemiliknya sendiri.
Selain itu, Ensiklopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400) juga menyebutkan bahwa pamor berarti benda-benda yang berasal dari luar angkasa yang digunakan sebagai bahan pembuat kujang. Benda-benda luar angkasa dapat dibedakan menjadi: (1) meteorit, yaitu benda yang mengandung besi dan nikel yang bila dijadikan kujang akan berwarna putih keabu-abuan (pamor bodas). Pamor ini berkhasiat memberikan keselamatan; (2) siderit, yaitu benda yang hanya mengandung baja sehingga bila dijadikan kujang akan berwarna hitam (pamor hideung). Pamor ini biasanya berkhasiat buruk dan membahayakan; dan (3) aerolit, yaitu benda yang apabila telah dijadikan kujang akan berwarna kuning (pamor kancana).
Pamor yang terdapat pada senjata kujang diperkirakan berjumlah sekitar 87 jenis, yaitu: kembang pala, saleunjeur nyere, kenong sarenteng, malati sarenteng, padaringan leber, hujan mas, kemban lo, batu demprak, ngulit samangka, kembang lempes, malati nyebar, simeut tungkul, sinom robyong, beas mawur, baralak ngantay, sagara hieum, nuju gunung, rambut keli, mayang ligar, kembang kopi, tunggul wulung, kembang angkrek, tundung, sungsum buron, simbar simbar, sangga braja, poleng, ombak sagara, pulo tirta, manggada, talaga ngeyembeng, keureut pandan, tambal wengkon, huntu cai, bawang sakeureut, cucuk wader, gunung guntur, gajih, sanak, ngarambut, raja di raja, janus sinebit, kota mesir, lintang kemukus, kembang tiwu, sisit sarebu, tunggak semi, oray ngaleor, pari sawuli, sumur sinaba, selo karang, lintang purba, sumber, prabawa, pangasih, raja kam kam, riajah, bala pandita, pancuran mas, sumur bandung, adeg tilu, tangkil, kendagan, buntel mayit, kembang pakis, dua warna, karabelang, manggar, pandhitamangun suka, borojol, bugis, gedur, tunggak semi, tambol, tumpuk, sekar susun, huntu simeut, raja temenang, pulo duyung, bulan lima, pupus aren, wulan wulan, ruab urab, singkir ros tiwu, dan rante.
Pada zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, orang yang ahli dalam membuat kujang disebut Guru Teupa. Dalam proses pembuatan sebilah kujang seorang Guru Teupa harus mengikuti aturan-aturan tertentu agar kujang dapat terbentuk dengan sempurna. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah mengenai waktu untuk memulai membuat kujang yang dikaitkan dengan pemunculan bintang di langit atau bintang kerti. Selain itu, selama proses pengerjaan kujang Guru Teupa harus dalam keadaan suci dengan cara melakukan olah tapa (puasa) agar terlepas dari hal-hal yang buruk yang dapat membuat kujang yang dihasilkan menjadi tidak sempurna. Dan, seorang Guru Teupa harus memiliki kesaktian yang tinggi agar dapat menambah daya magis dari kujang yang dibuatnya. Sebagai catatan, agar sebuah kujang memiliki daya magis yang kuat, biasanya Guru Teupa mengisinya dengan kekuatan gaib yang dapat bersifat buruk atau baik. Kekuatan gaib yang bersifat buruk atau jahat biasanya berasal dari roh-roh binatang, seperti harimau, ular, siluman dan lain sebagainya. Sedangkan kekuatan gaib yang bersifat baik biasanya berasal dari roh para leluhur atau guriyang.
Kelompok Pemilik Kujang
Konon, pada zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, senjata kujang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan status sosialnya[3] dalam masyarakat, seperti: raja, prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa, golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan bagi rakyat kebanyakan, hanya boleh mempergunakan senjata tradisional atau pakakas, seperti golok, congkrang, sunduk, dan kujang yang fungsinya hanya digunakan untuk bertani dan berladang.
Setiap orang atau golongan tersebut memiliki kujang yang jenis, bentuk dan bahannya tidak boleh sama. Misalnya, kujang ciung yang bermata sembilan buah hanya dimiliki oleh Raja, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan kujang ciung yang bermata lima buah hanya boleh dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis dan Bupati Pakuan. Selain oleh ketiga golongan tersebut, kujang ciung juga dimiliki oleh para tokoh agama. Misalnya, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh para pandita atau ahli agama, kujang ciung bermata lima buah dimiliki oleh para Geurang Puun, kujang ciung bermata tiga buah dimiliki oleh para Guru Tangtu Agama, dan kujang ciung bermata satu buah dimiliki oleh Pangwereg Agama. Sebagai catatan, para Pandita ini sebenarnya memiliki jenis kujang khusus yang bertangkai panjang dan disebut kujang pangarak. Kujang pangarak umumnya digunakan dalam upacara-upacara keagamaan, seperti upacara bakti arakan dan upacara kuwera bakti sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh negeri.
Begitu pula dengan jenis-jenis kujang yang lainnya, seperti misalnya kujang jago, hanya boleh dimiliki oleh orang yang mempunyai status setingkat Bupati, Lugulu, dan Sambilan. Jenis kujang kuntul hanya dipergunakan oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu, Patih Jaba, dan Patih Palaju) dan Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paseban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero). Jenis kujang bangkong dipergunakan atau dibawa oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, dan Guru Cucuk. Jenis kujang naga dipergunakan oleh para Kanduru, Para Jaro (Jaro Awara, Jaro Tangtu, dan Jaro Gambangan). Dan, kujang badak dipergunakan oleh para Pangwereg, Pamatang, Panglongok, Palayang, Pangwelah, Baresan, Parajurit, Paratutup, Sarawarsa, dan Kokolot.
Sedangkan, kepemilikan kujang bagi kelompok wanita menak (bangsawan) dan golongan wanita yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu, misalnya Putri Raja, Putri Kabupatian, Ambu Sukla, Guru Sukla, Ambu Geurang, Guru Aes, dan para Sukla Mayang (Dayang Kabupatian), kujang yang dipergunakan adalah kujang ciung dan kujang kuntul. Sementara untuk kaum perempuan yang bukan termasuk golongan bangsawan, biasanya mereka mempergunakan senjata yang disebut kudi. Senjata kudi ini berbahan besi baja, bentuk kedua sisinya sama, bergerigi dan ukurannya sama dengan kujang bikang (kujang yang dipergunakan wanita) yang langsing dengan ukuran panjang kira-kira satu jengkal (termasuk tangkainya).
Cara Membawa Kujang
Sebagai sebuah senjata yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan-kekuatan magis tertentu, maka kujang tidak boleh dibawa secara sembarangan. Ada cara-cara tertentu bagi seseorang apabila ia ingin pergi dengan membawa senjata kujang, diantaranya adalah: (a) disoren, yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk atau tali pengikat yang dililitkan di pinggang. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara disoren ini biasanya adalah kujang yang bentuknya lebar (kujang galabag), seperti: kujang naga atau kujang badak; (b) ditogel, yaitu dibawa dengan cara diselipkan pada sabuk bagian depan perut tanpa menggunakan tali pengikat. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara demikian biasanya adalah kujang yang bentuknya ramping (kujang bangking), seperti kujang ciung, kujang kuntul, kujang bangkong, dan kujang jago; (c) dipundak, yaitu dibawa dengan cara dipikul tangkaian di atas pundak, seperti memikul tumbak. Kujang yang dibawa dengan cara demikian adalah kujang pangarak, karena memiliki tangkai yang cukup panjang; dan (d) dijinjing, yaitu membawa kujang dengan cara ditenteng atau dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara seperti ini biasanya adalah kujang pamangkas atau kujang yang tidak memiliki kowak atau warangka.
Nilai Budaya
Pembuatan kujang, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk kujang yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kujang yang indah dan sarat makna. (pepeng)
Sumber:
Nandang. 2004. Senjata Tradisional Jawa Barat. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
R. Satjadibrata. 1954. Kamus Basa Sunda. Citakan ka-2. Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P dan K.
Edi S Ekadjati (ed). 2000. Ensiklopedi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya
Kamus Umum Basa Sunda. 1975. Bandung: Ternate.

[1] Mata pada kujang melambangkan Mandala, yang menurut agama Sunda Wiwitan adalah merupakan “dunia” yang akan dilalui oleh setiap manusia, yaitu: Mandala Kasungka, Mandala Parmana, Mandala Kama, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Sama dan Mandala Agung. Pada masa Kerajaan Pajajaran jumlah mata pada sebilah kujang bergantung pada status pemiliknya. Misalnya, kujang yang bermata sembilan hanya dimiliki oleh Raja, kujang yang bermata tujuh hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan kujang yang bermata lima hanya dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis, dan Bupati Pakuan.
[2] Racun yang digunakan untuk menambah khasiat atau tuah sebuah kujang biasanya terbuat dari peurah atau “bisa binatang” dan getah tumbuh-tumbuhan. Peurah biasanya diambil dari ular tiru, ular tanah, ular gibug, dan kala jengking kalajengking. Sedangkan getah tumbuhan biasanya diambil dari akar leteh, geutah caruluk (enau), dan serbuk daun rarawea.
[3] Tingkatan status sosial dalam masyarakat Sunda pada masa Kerajaan Pajajaran, adalah sebagai berikut: (1) Raja; (2) Lengser dan Brahmesta; (3) Prabu Anom (putera mahkota); (4) Bupati Panekes dan Balapati; (5) Girang Seurat; (6) Bupati Pakuan dan Bupati Luar Pakuan; (7) Patih, Patih Tangtu, dan Matri Paseban; (8) Lulugu; (9) Kanduru; (10) Sambilan; (11) Jaro dan Jaro Tangtu; (12) Baresan, Guru, dan Pangwereg; dan (13) Kokolot.

upacara adat tuk si bedhug

Upacara Adat Tuk Si Bedhug


Kirab Tuk Sibedhug


Bagi masyarakat Indonesia asli khususnya masyarakat jawa, nilai agama menjadi nilai utama yang bersifat mengikat dan saling mempengaruhi nilai-nilai yang lain. Biasanya nilai agama tersebut dikaitkan dengan adat istiadat yang ada dengan berbagai tatacara dan serangkaian upacara yang kompleks. Hubungannya dengan masyarakat, upacara ini dapat diartikan sebagai bentuk semangat gotong-royong dan kerukunan.
Upacara adat sebagai salah satu bentuk ungkapan budaya dan tradisi yang masih banyak dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Budaya dan tradisi adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Adanya upacara adat ini juga berpotensi pada daerah desa wisata budaya.  Dalam hal ini upacara adat Tuk Si Bedug merupakan sarana sebagai Desa Wisata Budaya di daerah Mranggen, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta.
Tradisi upacara adat Tuk Si Bedug merupakan perwujudan interaksi antara kebudayaan islam dan kebudayaan Jawa. Jika ditinjau dalam perspektif islam akan memunculkan proses sinkretik, sebaliknya jika ditinjau dalam perspektif kebudayaan jawa akan memunculkan proses sintetik. Pada sejarah perkembangannya, tradisi upacara adat Tuk Si Bedug di Desa Margodadi memperlihatkan adanya fenomena umum, yaitu perubahan dan perkembangan. Hal itu sejalan dengan teori sejarah yang dikemukakan oleh Sartono Kartodirjo bahwa setiap kebudayaan berlangsung di dalam waktu dan senantiasa mengalami perubahan yang didalamnya terjadi pembentukan, penciptaan kembali dan pembaharuan.
Eksistensi tradisi upacara adat Tuk Si Bedug merupakan wujud kesetiaan masyarakat Margodadi terhadap warisan budaya leluhur yang didasari oleh kepercayaan atas kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Proses modernisasi upacara tersebut hanyalah sebagai sebuah variasi yang mengemas prosesi adat agar lebih menarik dan tidak membosankan tanpa mengurangi makna religi sehingga tetap mempunyai eksistensi di dalam ruang lingkup masyarakat.
Upacara adat Tuk Si Bedug memiliki keunikan tersendiri yaitu dalam tradisi upacara adat Tuk Si Bedug Nampak sebuah fenomena budaya yang mampu memperlihatkan interaksi kehidupan berbudaya, bermasyarakat, dan beragama.  Keunikan lainnya yaitu berupa prosesi kirab yang merupakan iringan atau arak-arakan diikuti oleh rombongan-rombongan seperti bergodo dengan iringan musik.selain itu juga terdapat beberapa gunungan yang merupakan simbol  dari upacara adat tersebut.

Gunungan Kirab


Awal mula dilaksanakannya upacara adat Tuk Si Bedug bertujuan untuk menghormati perjalanan seorang tokoh Agama Islam, yaitu Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari Sembilan wali atau dikenal dengan nama WALISANGA. Upacara adat Tuk Si Bedug diselenggarakan di Dusun Mranggen, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta dan dilaksanakan pada hari jumat pahing di bulan jumadil akhir atau bulan juli.
Dalam perjalanannya itu Sunan Kalijaga berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat tepatnya pada waktu tengah hari. Pada Waktu itu Sunan Kalijaga akan melaksanakan sholat jumat ( tepatnya pada jumat pahing), akan tetapi Kanjeng Sunan Kalijaga tidak mendapatkan air untuk berwudlu. Maka dengan meminta pertolongan kepada Allah SWT Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya kedalam tanah. Dari tancapan tongkat tersebut, memancar air yang sampai saat ini tidak pernah kering dan diberi nama “ Tuk Si bedug”.
Adapun Tujuan lain dari pelaksanaan upacara adat Tuk Si Bedhug adalah :
1.      Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan dilaksanakan upacara ini diharapkan setiap masyarakat dapat meningkatkan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengingat kebesaranNya dan mukjizat yang diberikan kepada Sunan Kalijaga sehingga memunculkan sebuah mata air yang diberi nama Tuk Si Bedhug. Dengan mengingat kejadian tersebut manusia akan mengakui kebesaranNya dan berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaannya.
       2.  Diharapkan dapat memperbaiki perekonomian masyarakat.
Hal ini merupakan tujuan dari segi ekonomi. Untuk memeriahkan upacara ini seminggu sebelum dilaksanakan upacara Adat Tuk Si Bedhug diadakan pasar malam. Dengan adanya pasar malam ini diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat. Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat diantaranya dengan berjualan di arena pasar malam dan menyediakan tempat parkir bagi pengunjung pasar malam dan upacara Tuk Si Bedhug.
       3. Melestarikan kebudayaan adi luhung itu sendiri.
Tujuan sebenarnya dari upacara adat ini adalah melestarikan kebudayaan yang ada di Dusun Mranggen agar tetap hidup dan terus berkembang. Dalam upacara ini sebenarnya tidak ada unsur mistik, yaitu yang berhubungan dengan hal yang ghoib. Namun upacara ini hanya bertujuan untuk mengingat napak tilas Sunan Kalijaga serta menjaga keberadaan adat tradisi yang bersangkutan agar tetap hidup dan lestari dengan ciri khas tersendiri.
      4. Meningkatkan rasa kegotong-royongan antar sesama.
Upacara adat ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa terkecil seperti RT sampai kepada Dinas Pariwisata. Untuk menyukseskan upacara adat tersebut dibutuhkan kerjasama yang baik antara elemen-elemen masysarakat tersebut. Sehingga upacara adat tersebut dapat berjalan dengan lancar, tertib, aman, dan terkendali.
5. Menumbuhkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya di kalangan generasi muda.
Pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus modernisasi harus diakui sudah sangat mengikis kecintaan dan kebanggaan generasi muda terhadap kebudayaan. Dengan diadakannya upacara adat ini, diharapkan generasi muda mengenali dan handarbeni terhadap budaya luhur milik bangsa sendiri.
Pemerintah Kecamatan Seyegan yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sleman akan terus men-support semua bentuk upacara adat yang ada di tengah-tengah masyarakat, sehingga tujuan dari penyelenggaraan sebuah acara adat dapat tercapai dengan baik.

Rabu, 06 April 2011

jogabonito tactic



The tactical philosophy of the most successful football nation on earth has captured the hearts and minds of football fans all over the world for generations. Brazil’s breathtaking attacking flair has won them 5 World Cups making it not just beautiful football but also effective and can be perfectly described by the term ‘Joga Bonito’ meaning ‘play beautifully’ in Portuguese and that is exactly what we are going to do.
The system is based on individual flair, emphasis on attack and vibrant possession football.
Some of you will remember my first Brazilian Adventure back in 2006 on Samba Futebol which was so much fun I decided to have another go.

Formation

Widely regarded as the greatest team of all time, the legendary Brazil side of the 1970 World Cup lined up in a 4-2-4 formation. Brazilian sides have also been known to line up in variants of the 5-3-2 formation.
When I looked at Brazilian football back in 2006 I opted for a variant of the 5-3-2 formation creating a 2-3-2-1-2.
This time around I will be looking at a variant of the 4-2-4 formation.
joga formation The Debate Download: Is This The Perfect Brazil Tactic?
This formation is one of my favourite formations.
Brazilian football is based very much on possession. Brazilian footballers typically have a far superior level of technical skill in comparison with their European counterparts. Additionally this formation is fantastic for establishing and maintaining a high level of possession due to the passing options.
It has always been argued that triangles in a formation create passing options making it easier to retain possession however you will notice that this formation creates two boxes: an attacking box and a defensive box. This means that when any given player in that ‘box’ has the ball he always has at least 3 passing options near by plus the wingbacks bombing up the flanks as oppose to the 2 passing options created by a triangle.
GOLEIRO – Sweeper Keeper
The goalkeeper has traditionally been the Achilles’ heel of great Brazilian sides. However in Julio Cesar they have a world class keeper. Brazilian goalkeepers act as a sweeper keepers moving quickly off their line should anything get through the defence.
ZAGUEIROS – Ball Playing Defender (cover)
Brazilian centre backs are known as zagueiros and they act as dual sweepers sweeping up anything that makes it through the packed midfield. They tend to be very quick for centre backs and be very good on the ball. Look out for pace, tackling, marking, areal ability and mental attributes.
LATERAL ESQUERDO/DIRECTO – Wingback (attack)
The attacking wing back is one of the most exciting characteristics of the Brazilian system and one of the more important components of the formation. European sides will traditionally play two players on each flank whereas Brazilian sides prefer to play just one, freeing up two more players to play in the centre. Blessed with the overwhelming talent of Maicon, Alves, Maxwell and Marcelo they provide all the width for the team and take on both attacking and defensive roles. Look out for strength; my experience with Vasco was that strong wingbacks are absolutely lethal.
VOLANTE – Anchorman (defend)
Volante is the Brazilian term for the holding midfielder – the Michael Essien, Daniel De Rossi or Claude Makelele of the European game. In truth there is not much difference between the Brazilian volante and the European holding midfielder apart from the volante will move back to cover the zagueiros when they move to cover the wingbacks. Unlike the system I used in 2006 this system operates with dual volantes providing more stability and along with the zagueiros creating the defensive box.
NO. 10 – Inside Forward (attack)
Experimentation led me to conclude that the most effective way to organise my front four was two deeper inside forwards providing the link between midfield and attack and two advanced forwards reeking havoc for the opposition defence. The inside forwards act as traditional Brazilian No. 10s with Kaka and Diego combining to create a creative and lethal force. These are the most technically gifted players on the team. Their primary function is to create goal scoring chances for themselves and those around them.
AVANTE – Advanced Forward (attack)
Pele, Romario and Ronaldo are all perfect examples of the devastating effect of the Brazilian avante. Combining with the two attacking midfielders they create the devastating attacking box. It seems that no defence in the world can deal with the likes of Kaka, Diego, Robinho, Luis Fabiano or Pato attacking their defence with at least three passing options and combining with the wingbacks giving them 4 targets in the box was also particularly lethal. Occasionally pushing them into the FR/L position would completely baffle centre backs dragging them out of position is they either move wide or forward to the inside forwards.

Team Instructions and Philosophy

I like to start the game at a thunderous pace, literally all-out-attack. Catch the opposition off guard and grab and early goal. Once I have taken the lead switch to the counter-attacking system encouraging the opposition to attack but leaving the front four forward eventually catching them on the counter and grabbing a second. Then moving into the attacking system to control the game, pass the ball around a bit and go for the kill.

Shouts

Brazilian football is based largely on possession and movement so I use these shouts.
Maintain possession – Possession is nine tenths of the law. Brazilian sides dominate possession. You should be looking at 60+% possession and 70+% pass completion.
Pass into space – Particularly with the front 4 movement is vital as the opposition cannot keep tabs on the attacking players.
Exploit the Flanks – The wingbacks have 4 options in the box to aim crosses at so exploit this. Also in international football lots of sides play narrow formations. You might only have one player on each flank but they are world class and have 4 passing options inside so shouldn’t lose the ball.

Results: FIFA World Cup 2010

Who better to test a Brazilian tactic with than Brazil themselves?!
joga team The Debate Download: Is This The Perfect Brazil Tactic?
Having seen the system evolve after 8 seasons with Vasco I decided to take Brazil to the 2010 World Cup and see how it went.
Here are some video highlights of the goals I scored in the early part of the tournament. There’s so many, the song finished before I could cram them all in! So, in next week’s Debate Download article, I’ll show you the final knock out matches.

Selasa, 05 April 2011

cara klaim jamsostek

Jamsostek oh Jamsostek
 jamsostek bisa diambil setelah masa kepesertaan lima tahun ,jadi bila saya bekerja tahun 2000 dan habis kontrak tahun 2003,jamsostek baru bisa diambil tahun 2005,tetapi bila saya berhenti kerja tahun 2005 tetap masih ada masa tunggu selama 6 bulan,intinya jamsostek bisa diambil setelah lima tahun+6 bulan sejak kita resign/berhenti kerja contohnya saya berhenti bulan januari 2006,berarti jamsosteknya keluar bulan juli 2006. belakangan ini ada beredar kabar setelah kita berhenti kerja jamsostek bisa langsung diambil,ternyata memang benar,tetapi ada syarat-syarat tertentu diantaranya bila berhenti karena meninggal dunia,menjadi ppns,lanjut ada 2 syarat lagi yg saya lupa,jadi intinya ya kalau mau di coba saja dulu,datang ke kantor jamsostek terdekat(sekarang sudah online/bisa diklaim dimana saja) Hari ini akhirnya saya mengurus JHT Jamsostek saya. Agak pusing juga mengingat banyak keluhan terhadap proses klaim Jamsostek ini beredar di Internet. Sudah terbayang pula proses berbelit, antrian panjang dan waktu 1/2 hari yang akan terbuang. Namun dengan kebulatan tekad, karena memang uang yang ada cukup lumayan untuk menambah periuk nasi, saya akhirnya memutuskan untuk tetap melakukan klaim… afterall, it’s my own damn money.

Sebelum mengajukan klaim, saya melakukan survey terlebih dahulu dengan membaca di Internet maupun melihat langsung ke situs Jamsostek. Dari sana saya memperoleh informasi bahwa untuk mengajukan klaim, saya harus membawa dokumen:
  1. Kartu Peserta Jamsostek (KPJ) Asli dan 2 kopi;
  2. KTP Asli yang masih berlaku dan 2 kopi;
  3. Kartu Keluarga Asli dan 2 kopi;
  4. Surat Keterangan Berhenti dan 2 kopi;
  5. Materai Rp 6000 1 lembar
Jamsostek saya sendiri ternyata terdaftar di cabang pancoran, namun berhubung sekarang sudah ‘online’ jadi kita bisa klaim di mana saja. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan klaim di cabang kebon sirih yang dekat dengan kantor.
Dengan berbekal dokumen-dokumen dan mental tempe, saya berangkat dengan menumpak Metromini 66 dari depan kantor. Dalam 45 menit sampailah saya di kantor Jamsostek cabang kebon sirih. Setelah bertanya pada Om Satpam, sayapun dipersilahkan menuju bagian klaim di lantai 1 kantor tersebut. Ealah.. ternyata di lantai dasar ada kantor pos, jadi untuk anda yang tidak berbekal materai bisa membeli di kantor pos itu.
Di lantai satu saya langsung bertanya pada bapak-bapak yang berjaga di depan. Beliau menanyakan KPJ saya dan kemudian memberikan 3 lembar formulir yang harus saya isi. Saya segera mengisi ketiganya dengan agak ragu, maklum ini pengalaman pertama. Namun akhirnya saya sukses juga mengisi formulir-formulir itu. Setelah itu saya kemudian diberikan nomor antrian ke CSO (Customer Service Officer), dapat nomor 20 euy. Segera saja saya masuk ke ruang tunggu. Ternyata sangat sepi, tidak sampai 10 orang ada disitu. Jauh dari bayangan antrian panjang saya. Dan asyiknya ternyata nomor saya sudah ditunggu oleh CSO. Jadi tanpa sempat menunggu sayapun langsung menghadap.
Sang CSO kemudian memeriksa kelengkapan dokumen saya. Saya memberikan ketiga formulir. Kemudian dia menanyakan KPJ dan kopinya; KTP dan kopinya; Kartu Keluarga dan kopinya; serta Surat Keterangan Berhenti dan kopinya. Setelah membandingkan dan menstempel kopiannya, beliau kemudian mengembalikan KTP asli, Kartu Keluarga asli dan Surat Keterangan Berhenti asli. Sementar KPJ dan kopiannya tidak dikembalikan.
Sang CSO kemudian mengisi beberapa bagian dari formulir saya yang belum diisi (hehehe… soalnya bingung mau diisi apa). Dia kemudian bertanya apakah dananya hendak ditransfer ke bank atau cash. Sayapun menjawab cash karena saya berfikir kalau di transfer ke bank pasti nanti saya deg-deg-an mulu menanti-nanti uang tersebut aktif di rekening saya. Beliau kemudian menuliskan tanggal 31 Agustus di tanggal selesai proses dan kemudian meminta saya kembali tanggal itu untuk mengambil uangnya langsung di kasir yang terletak di ujung seberang meja dia. That’s it… selesailah sebagian proses klaim jamsostek saya.
Weleh.. ternyata tidak berbelit dan ternyata tidak menghabiskan waktu 1/2 hari, walaupun saya harus balik lagi namun lebih baik lah daripada harus buang waktu 1/2 hari nunggu. Salut buat Jamsostek.

Minggu, 03 April 2011

natural medicine toothache


  natural medicine toothache

  Natural therapy to overcome a toothache.
Use Item 10 cloves roasted and then crushed to a powder, clove powder and then inserted into a hollow tooth and covered with cotton. White garlic grown to taste until smooth and then placed on the tooth yangberlubang.
Use green chillies cut edges a little and then burned. Setelah panas, tempelkan cabai tersebut pada gigi yang sakit. Once hot, chili paste on the sore tooth.
Use flower leaves(daun kembang sore) boiled with water in the afternoon until the remaining 600 cc 300 cc, while warm then used rinse his mouth.
 source: prof Hembing Wijayakusuma
 Wuluh 5 star fruit star fruit wuluh washed, fed with a little salt, chewing teeth are hollow place.
 source
Ice block / stone Take a small piece of ice back and put it in between your index finger and thumb. Massage gently in that section, well now you can feel the pain slowly began to lose?  Massage uncomfortable by touching the ice blocks the nerve cells located in the vicinity of the thumb and forefinger.By the ice massage directly into the central nerve block, so that 60-90% of pain you are feeling quickly disappears.
Finely cut garlic in the garlic (1 clove of garlic), then sprinkle a little salt. Chewing on the sore area and soon the pain in your teeth will slowly disappear. You also can use it as therapy to strengthen the bone structure of your teeth. red garlic. Same way with Shallot Garlic. The content of enzyme in onions may help kill the bad germs in the mouth.
,,Jeruk nipis,, Squeeze lime juice orange juice, drop on the tooth that hurt spoonful after spoonful every 10 minutes until the orange juice runs out. Beside rich in vitamin C, orange juice also serves as a reliever your toothache.
,,salt,,. It's easy salt, sprinkle salt in a glass of warm mineral water .Stir and then use as a means of mouthwash. Gargle at least until you feel quite comfortable and not too tormented by toothache pain.
Thus litle tips from me hopefully to help treat your toothache, and beneficial to all

obat sakit gigi yang alami

 Terapi alamiah mengatasi sakit gigi.
Gunakan 10 Butir cengkeh disangrai lalu ditumbuk hingga menjadi bubuk, kemudian bubuk cengkeh dimasukkan ke dalam gigi yang berlubang lalu ditutup dengan kapas. Barang putih secukupnya ditumbuh hingga halus kemudian ditempelkan pada gigi yangberlubang.
Gunakan cabai hijau dipotong ujungnya sedikit lalu dibakar. Setelah panas, tempelkan cabai tersebut pada gigi yang sakit.
Gunakan daun kembang sore direbus dengan air 600 cc hingga tersisa 300 cc, lalu selagi hangat digunakan berkumur-kumur.
sumber  ala Prof Hembing Wijayakusuma
Buah belimbing wuluh5 buah belimbing wuluh dicuci bersih, makan dengan sedikit garam, kunyah ditempat gigi yang berlubang.
sumber
Es balok/batu Ambil sepotong kecil es balik dan letakkan di antara jari telunjuk dan ibu jari. Pijat perlahan di bagian tersebut, nah kini bisa Anda rasakan perlahan rasa sakit itu mulai hilangkan? Pemijatan nyaman oleh si es balok menyentuh sel-sel syaraf yang terdapat di sekitar ibu jari dan telunjuk. Pemijatan yang dilakukan si es balok langsung ke pusat syaraf, sehingga 60 – 90% rasa sakit yang Anda rasakan cepat menghilang.
Bawang putih di potong halus si bawang putih (1 siung bawang putih), kemudian taburkan sedikit garam. Kunyah di daerah yang sakit dan tak lama kemudian rasa sakit di gigi Anda akan menghilang perlahan. Anda juga boleh menggunakannya sebagai terapi untuk memperkuat struktur tulang gigi Anda.
Bawang merah Caranya sama dengan Bawang Putih. Kandungan enzim dalam bawang merah dapat membantu membunuh kuman-kuman jahat di dalam mulut.
Jeruk nipis Peras sari jeruk nipis, pulaskan pada bagian gigi yang sakit sesendok demi sesendok setiap 10 menit sampai sari jeruk tersebut habis. Selain kaya akan vitamin C, sari jeruk tersebut juga berfungsi sebagai pereda sakit gigi Anda.
Garam Caranya mudah, taburkan garam dalam segelas air mineral hangat. Aduk kemudian gunakan sebagai sarana mouthwash. Berkumurlah setidaknya sampai Anda merasa cukup nyaman dan tak terlalu tersiksa oleh rasa sakit gigi.
demikian sedikt tips dari saya semoga dapat membantu mengobati sakit gigi anda,dan bermanfaat bagi semua